Tradisi “Obrog” Ramadhan, Lestari di Tengah Warga Perbatasan Majalengka-Cirebon

0
738

CIDENOK merupakan salah satu desa di Kec Sumberjaya Kab Majalengka yang  wilayahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Cirebon. Meski secara administrasi masuk Kabupaten Majalengka, namun desa ini dari bahasa dan adat istiadatnya kental dengan Kacirebonan.

Seperti halnya Obrog-obrog, satu tradisi unik pada Bulan Ramadhan yang hingga kini lestari masih dilakukan sebagian warganya. Kegiatan membangunkan waga untuk sahur ini rutin tiap malam dilakukan sekelompok warga selama Bulan Ramadhan.

Camat Sumberjaya, Dedi Komaludin, menyebutkan, kegiatan sekelompok war ga membangunkan sahur di malam Bulan Ramadhan dengan obrog-obrog merupakan tradisi unik perlu dilestarikan dan dikembangkan. Tujuannya agar mereka lebih kreatif serta meningkatkan bakat bermusik serta rasa kepeduliannya.

“Tradisi membangunkan warga yang hendak sahur dengan obrog-obrog sangat bermanfaat dan cukup menarik. Dalam kelompok obrog-obrog terdapat kekompakan dan persatuan juga kesatuan dalam membunyikan alat musik, dan ada rasa kepedulian kepada sesama warga,” tuturnya.

Ditambahkannya, biasanya obrog-obrog dilakukan sekelompok warga dengan berjalan kaki keliling kampung sambil bermusik dan bernyanyi setiap menjelang sahur. antara jam 1 sampai jam 3 dini hari. Nanti pada akhir Bulan Ramadhan atau menjelang hari raya kelompok obrog-obrog ini, meminta sumbangan seikhlasnya kepada warga.

“Sumbangannya ada yang memberikan beras dan ada yang uang. Disinilah terdapat nilai-nilai luhur kemanusiaan, rasa kepedulian dan kebersamaan terbina dan tertanam antar warga,” katanya.

Sementara itu, Mamat salah satu warga setempat yang juga ketua kelompok obrog-obrog, menyebutkan, tradisi membangunkan warga untuk bersahur dilakukan dengan cara obrog-obrog. Yaitu menabuh alat musik dengan berkeliling kampung sambil benyanyi dan berucap sahuur, sahur, agar warga beranjak bangun dari tempat tidurnya untuk bersahur.

“Waktu dulu obrog-obrog menggunakan alat tradisional seperti kentongan, ember dan piring yang ditabuh untuk membangunkan warga pada saat sahur. Mereka biasanya keliling desa membangunkan warga untuk sahur. Tapi seiring perkembangan jaman, tradisi obrog kini sudah mulai menggunakan alat musik modern seperti seperti gitar, kendang, suling, dan organ tunggal serta menggunakan pengeras suara atau sound system dengan menyanyikan lagu-lagu tarling cirebonan dan dangdut, “paparnya. Minggu (3/6/2018).

Menurutnya obrog-obrog merupakan tradisi yang sudah lama dan perlu dilestarikan meskipun ditengah kemajuan teknologi.

“Seperti saat ini setiap orang sudah memiliki Handphone dan di hanphone tersebut sudah ada alrm yang bisa diatur kapanpun kita mau untuk dibunyikan. Namun meskipun demikian bukan berarti tradisi membangunkan sahur dengan obrog-obrog harus tergantikan dengan keberadaan teknologi tersebut, justru tradisi ini harus tetap dipertahankan, “jelasnya. (Nano/Gragepolitan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here