Pasar Rakyat Muludan Cirebon Mulai Ramai

0
1303
gragepolitan

PASAR Muludan yang hadir di alun-alun Keraton Kasepuhan Cirebon pada setiap bulan Mulud (Maulid Nabi) dalam setiap tahunnya, telah menjadi ikon pariwisata Kota Cirebon. Selain memiliki nilai religi, juga memiliki nilai tradisi, sosial dan ekonomi dengan selalu dipadati pengunjung dari berbagai daerah.

Satu bulan menjelang bulan Mulud seperti saat ini, mereka yang akan berjualan di arena Muludan sudah cukup banyak dengan menempati lapak-lapak yang disediakan panitia. Bahkan, sepanjang hari hingga malam, pengunjung kini sudah mulai ramai memadati Pasar Muludan.

Nono (47) misalnya, warga asal Kuningan tersebut membawa rombongan keluarga untuk sekedar jalan-jalan sekaligus berbelanja. Mereka tampak asyik masuk hingga ke dalam arena pasar Muludan yang menyediakan aneka kebutuhan.

“Setiap ada even Muludan, kami saya selalu menyempatkan datang untuk jalan-jalan membawa keluarga. Ya hitung-hitung hiburan dan berbelanja keperluan. Selain harganya cukup ekonomis, juga di arena Muludan ini barang dan makanan yang dijual sangat lengkap,” katanya, Senin (21/11).

Apa yang dikatakan Nono sangat beralasan, karena, selain dapat memenuhi kebutuhan sandang, aneka ragam permainan pun tersedia di sini. Seperti, kincir, kora-Kora, kuda jet. ombak banyu. Tak hanya itu, pengunjung pun bisa mencoba permainan lainnya seperti perah, trambolin, mandi bola, dan atraksi maut tong stand.

Pada setiap permainannya pengunjung dikenakan tarif Rp 8.000,-. Namun khusus untuk permianan yang sifatnya

Salah satu pedagang sandal/sepatu asal Majalengka, Herman (33) mengatakan bahwa, pada hari ke-3 atau Senin (21/11) kondisinya belum banyak pembeli, sekalipun dari jumlah pengunjung sudah banyak.

“Pada Minggu Ke-2 nanti biasanya ramai pembeli, kalau tidak ramai ya gimana mau balik modal mas,” selorohnya.

Ia mengatakan bahwa, lapak dengan ukuran 3×9 meter itu disewa seharga Rp. 7.500.000,- itupun belum termasuk biaya penerangan. Di mana satu lampu kena biaya Rp. 130.000. Dari informasi yang diperoleh harga dewa disesuaikan dengan harga blok dan ukuran. Seperti dikatakan Aris (31), pedagang aneka minuman ini mengaku lapak yang ditempati dengan ukuran 3×2 meter ia sewa seharga Rp.1.800.000,-

“Belum diitung lampu, kalau di blok ini 1 lampu bayar Rp.100.000, saya sendiri memakai dua lampu,” tuturnya.(gragepolitan/Cepy)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here