Kasus Perekayasa Tanah Adidas, Polres Brebes Lanjutkan Periksa Para Saksi

0
293

Gragepolitan, BREBES-Kasus dugaan pemalsuan/penipuan rekayasa tanah milik Danisah (45) warga Losari Brebes segera diselesaikan Polres setempat. Setelah memanggil sejumlah saksi, termasuk Danisah, Polisi akan segera meminta keterangan dari saksi lainnya.

“Karena saat ini ada beberapa kegiatan, penanganan kasus ini terhenti dulu. Tapi setelah ini akan kami teruskan dengan memanggil saksi lainnya,” ujar Kasat Reskrim Polres Brebes, AKP Tri Agung saat dihubungi Gragepoĺitan dan PRTV belum lama ini.

Sementara saat disinggung perihal perkembangan dari kasus tersebut, Tri Agung menyatakan jika Danisah masih belum cukup bukti kuat atas kepemilikan tanah yang kini dikuasai Pabrik produsen Adidas tersebut.

Sebelumnya, Danisah warga Desa Blubuk RT 03/01 Kec.Losari Kab. Brebes Jateng melaporkan dugaan pemalsuan dan penipuan rekayasa tanah nya. Surat tanda penerimaan pengaduan Nopol: dumas/203/VIII/2019/RESKRIM.
tertanggal 9 Agustus 2019 atas nama Danisah binti Rawuh.

Danisah membantah keras jika pihaknya tak memiliki bukti kuat. Karena selain bukti AJB asli atas nama Winanto Boli pemilik sebelumnya kini ditangannya, saksi-saksi lainnya telah menguatkannya.

“Termasuk Pak Winanto Boli sendiri telah mengakui saat pertemusn di desa dan itu direkam. Begitupun kwitansi, saksi telah mengakui bahwa ada yang aslinya. Jadi Saya mohon keseriusan aparat untuk.menindak tegas pemalsu dan perekayasa surat-surat hingga tanah saya dijual sepihak ke pihak pabrik,” tandasnya.

Seperti diketahui, riwayat tanah tersebut pada tahun 1972 terbit sertifikat atas nama Tasim No. Kohir 314 Persil 08 S.1V luas 16.420 m2 yang terletak di Desa Tengguli Kec Tanjung Kab Brebes Jawa Tengah. Pada mulanya merupakan sebagian dari ratusan hektar tanah warisan peninggalan Hj Siti Aminah Muntuk warga Brebes.

Setelah Siti Aminah Muntuk meninggal, terjadi sengketa gugatan perkara perdata No 48/Pdt-G/1987 antara ahli waris 11 rumpun yang diwakili Abdul Malik dengan ahli waris anak angkat Chalwani (Wawan). Hasilnya keputusan perkara perdata dari Mahkamah Agung (MA) No 3750/K/PDT/1998 tanggal 24 Mei 1989 dan No 1/BA.EKS/PDT.G/1988/PN.BBS. Isinya semua tanah obyek sengketa dieksekusi pengadilan dengan pembagian 75% hak ahli waris 11 rumpun dan 25% hak ahli waris anak angkat. Adapun, obyek tanah yang kini berada di dalam penguasaan PT Bintang Indokarya Gemilang (Adidas) masuk pada bagian ahli waris 11 rumpun yang diwakili H Abdul Malik.

Dari H Abdul Malik kemudian obyek tanah dimaksud dijual kepada Rawuh/Dasti melalui kuasa hukum 11 rumpun H Muchamad Rais Qodim. Transaksi tepatnya tanggal 24 Desember 1994 dihadapan PPAT camat Tanjung saat itu dengan AJB No 432/XII/PPAT/1994.

Dalam perkembangannya, karena dianggap tanah tersebut tak ada manfaatknya kemudian oleh Rawuh/Dasti tanah dikembalikan kepada 11 rumpun yang diwakili H Abdul Malik melalui surat pernyataan pelapasan hak atas tanah itu pada tanggal 26 September 2005 dihadapan camat dengan disaksikan Kepala Desa Tengguli, Ahmad Saefu dan Sekdes setempat, Gunawan Irmanto.

Kemudian pada tanggal 28 September 2005 Abdul Malik, menjual obyek tanah tersebut kepada Winanto Buholi, alamat Desa di Desa Tanjung Rukun RT 02/01 Kec Tanjung Kab Brebes dengan AJB No 473/IX/JB/PPAT/2005 tertanggal 28 September 2005 yang dibuat Camat Tanjung, Talfur Asaybha.

Lalu dari Winanto Buholi, obyek tanah kembali djual lagi kepada pembeli awal yakni Dasti yang tak lain ibu dari Danisah dengan nilai transaksi Rp 12 juta. Ini diperkuat dengan surat pernyataan pelepasan hak yang dibuat Winanto Buholi kepada Dasti pada tanggal 19 Januari 2011 yang disaksikan dua warga yang bernama Ade Faiz dan Taufik AR.

“Pada tahun 2014 Saya dan Pak Winanto Buholi menandatangani AJB di hadapan notaris Tris Sakti Handayani SH yang beralamat di Jalan Sangkal Putung No 197 Brebes. Jadi secara hokum jelas tanah tersebut milik saya. Ini AJB aslinya,” ujar Danisah.

Atas dasar itulah, persoalan muncul ketika obyek tanah tersebut ternyata telah dijual oleh Wawan ahli waris dari anak angkat pada sengketa pertama tahun 1989 kepada PT Bintang Indokarya Gemilang (Pabrik Sepatu Adidas) sangat tidak masuk akal. Sebab sertifikat tahun 1972 atas nama Tasim No. Kohir 314 Persil 08 S.1V yang dijadikan dasar transaksi sudah tak berlaku sejak terbitnya putusan MA No 3750/K/PDT/1998 tanggal 24 Mei 1989 dan No 1/BA.EKS/PDT.G/1988/PN.BBS.

“Dalam hal ini jelas, Wawan tak ada sangkut pautnya lagi dengan obyek tanah yang sejak awal sudah masuk pada bagian ahli waris 11 rumpun yang saat itu diwakili H Abdul Malik. Terus kenapa tiba-tiba sekarang nekat berani menjualnya hanya karena memiliki sertifikat yang sudah tak berlaku. Saya selaku pemilik sah yang dibutikan dengan memiliki AJB asli tanah tersebut sampai saat ini belum pernah menandatangani jual beli kepada siapa pun dan belum pernah menerima uang serupiah pun. Saya tegaskan terkait munculnya kwitansi Rp 150 juta tertanggal 14 Maret 2015 yang isinya menyebut saya telah menerima uang sejumlah itu untuk pengembalian/pembatalan jual beli tanah dari Abdul Malik, itu sangat tidak benar. Cocokan saja, di situ tanda tangan saya telah dipalsukan, sementara Abdul Malik telah meninggal,” papar Danisah.

Danisah menduga dalam kasus tanah miliknya ini ada sejumlah oknum yang secara sengaja mensiasati seolah-olah dirinya bukanlah pemilik sahnya. Di antaranya dengan merekayasa adanya kwitansi dan tanda tangan palsu, serta surat pembatalan akta jual beli palsu yang diperkuat pembatalan akta jual beli palsu yang dibuat-buat ditandatangani Camat Tanjung selaku PPATS.

Sementara itu, pada tanggal 27 mei 2019 dengan diawali melalui satu pertemuan di Kantor Desa Tengguli yang dihadiri kuasa hukum dari Winanto Buholi dan advokaat dari Wawan, diketahui bahwa dalam catatan buku C obyek tanah tersebut bukan lagi atas nama Tasim pemilik sertifikat pertama. Di dalam buku C tertera pada tahun 1994 telah djual belikan kepada Dasti dan pada tahun 2005 dijual belikan kepada Winanto Buholi. Ini juga diperkuat dengan catata wajib pajak Dispenda dengan No OP 33-29-110-018-006-0017-0 atas nama Dasti ibunya Danisah pemilik sah saat ini.

Dasarnya, di mana pada taggal 19 Januari 2011 Winanto Buholi telah menjual obyek tanah tersebut kepada Danisah anaknya Dasti. Ini dibuktikan dengan AJB asli yang kini dimiliki Danisah dan tak pernah menjual belikan kepada siapapun, termasuk melakukan pembatalan pembelian tanah dengan Winanto Buholi.

Terpisah, ketika dikonfirmasi perihal sengketa tanah tersebut, pihak PT. Bintang Indokarya Gemilang (Pabrik Sepatu Adidas), Teguh, mengatakan, jika persoalan tersebut sebaiknya ditanyakan langsung kepada legal perusahaan.(TIM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here